BLOGGER CHAT ROOM


ShoutMix chat widget

Jejak Prostitusi Pantai Talise


PALU 29/01/09. Salah satu situs pariwisata kota Palu yang begitu dikenal dan digemari adalah bentaran tepian pantainya yang panjang. Pantai Talise merupakan akses pertemuan bagi masyarakat dikota ini yang mencari udara segar, atau istilahnya (cari angin).

Aktifitas cari angin ini menjadi salah satu kegiatan favorit warga kota yang ingin melepas kepenatan dan kejenuhan setelah terlepas dari pelbagai kesibukan disiang hari. Rata-rata mereka yang gandrung dengan hal ini memilih kawasan Pantai Talisen dan Taman Ria sebagai tujuan persinggahannya.

Kedua tempat fenomenal tersebut memang begitu menggiurkan, betapa tidak, disana telah menanti warung-warung tenda yang menyediakan berbagai sajian hidangan makanan dan minuman dengan berbagai jenis. Tidak hanya itu yang bisa kita dapatkan didaerah tersebut, di Pantai Talise, anda juga dengan mudah menemukan tenda yang menyediakan fasilitas berkaraoke, minuman ber-alkohol bahkan gadis penjaja cinta/pekerja sex komersial (PSK). Sungguh sebuah tempat yang fantastis.




Image Pantai Talise sebagai tempat tongkrongannya pekerja sex komersial bukan lagi kabar baru. Sejak tahun 1990-an hingga 2000, tempat ini identik dengan tempat transaksi seks. Maka tak heran, bila malam hari tiba antrean kendaraan roda dua maupun empat memenuhi Pantai Talise. Mereka datang tak sekadar untuk menikmati minuman tradisional seperti sarabba (air jahe dicampur sedikit santan dan susu), pisang goreng, pisang gepe (pisang bakar dibumbui keju atau gula merah) dan jagung bakar, tapi juga untuk mencari wanita penghibur.

Kesan usaha prostitusi disitus wisata kota ini sungguh memberi coreng hitam bagi kota yang kental nuansa agamisnya. Membiarkan tumbuh suburnya usaha praktek pelacuran ditengah-tengah kota merupakan bagian kehancuran tatanan sosial masyarakat. Karena ini akan memberi dampak yang buruk bagi psikologi warga, khususnya bagi remaja-remaja kita.

Beberapa anak remaja baru gede (ABG) yang saya temui dalam rangka penyusunan tulisan artikel ini mengungkapkan rasa risihnya jika harus mampir atau nongkrong di Pantai Talise, mengingat tempat itu identik dengan usaha prostitusi. Selain itu tambah mereka, disana sering kali terjadi perkelahian sesama pemabuk, belum lagi ulah om-om hidung belang yang sering menawari ajakan untuk berkencan.

Untuk alasan tersebut para abg ini lebih memilih Taman Ria sebagai tempat alternatif jika ingin menikmati suasana pantai dimalam hari, mengingat didaerah tersebut masih sedikit lebih manusiawi. Sekalipun tidak menutup kemungkinan Taman Ria memiliki fasilitas maju-mundur (baca; esek-esek).

FAKTOR PENUNJANG TUMBUHNYA PORTITUSI

Minimnya Lapangan Kerja;
Tingkat kepadatan peduduk Kota Palu dewasa ini banyak membawa pengaruh terhadap siklus perekonomian masyarakat, terlebih situasi global yang sedang mengalami krisis ekonomi, sembako dan beberapa komoditi lain melonjak tajam. Warga kian terhimpit dengan kesulitan keuangan dan berimbas pada tingginya angka pengangguran.

Laju pertumbuhan penduduk berkisar 2.04%-3.86% tidak berjalan seimbang dengan pertumbuhan dunia usaha. Minimnya investasi yang masuk didaerah ini merupakan salah satu faktor penentu timbulnya pengangguran. Menyikapi hal ini semestinya Pemerintah Kota Palu lebih fokus pada pembenahan infrasturktur, aturan pendukung atau PERDA yang mengatur tentang lajur investasi yang aman dan menguntungkan, serta membentuk kelompok kerja (pokja) yang berkonsentrasi pada masalah penanggulangan pengangguran melalui program tepat guna atau istilah kerennya saya menyebut dengan Usaha Mandiri Kerakyatan (UKR).

UKR lebih spesifik pada penciptaan lapangan kerja mandiri bagi masyarakat, dengan pembekalan pelatihan, promosi serta bantuan modal usaha. Kota Palu harus memiliki komoditi unggulan. Hal ini guna menyempurnakan sumber pendapatan daerah yang masih belum ditangani dengan sungguh-sungguh. Sektor pariwisata dan pendidikan misalnya, bisa menjadi andalan pemerintah dalam hal penerimaan pendapatan daerah jika ditangani serius, mengingat daerah ini memiliki potensi pariwisata yang menarik dan juga sebagai ibu kota Propinsi Sulawesi Tengah. Jika hal ini dijalankan dengan serius dua atau tiga tahun kedepan Kota Palu telah memiliki sebuah sistem yang diaplikasikan untuk menanggulangi masalah pengangguran.

Penegakan Hukum Yang Belum Stabil;
Pemerintah Kota Palu telah memiliki perangkat hukum yang baku yaitu PERDA, hanya saja pelaksana tugas yang bertanggung jawab dalam menegakkan aturan tersebut masih terkesan loyo. Kawasan Pantai Talise adalah tujuan wisata, dimana tujuan wisata itu harusnya di isi dengan aktifitas yang berkaitan dengan fungsinya. Dikarenakan lemahnya penerapan hukum ditempat tersebutmembuat usaha portitusi tumbuh subur. Upaya penindakan terhadap pelaku-nya juga masih terkesan setengah-setengah, jadi jangan heran kalau hari ini dibasmi besok tumbuh lagi....

Penanganan Yang Lamban:

Dengan terbukanya jalur tembusan Pantai Talise menuju Taman Ria seharusnya disikapi dengan upaya pemerintah dalam membangun fasilitas publik yang bisa digunakan oleh masyarakat kota. Misalnya, taman, lampu penerangan, Pos Keamanan dan lainnya. Pembangunan fasilitas ini akan mempersempit ruang gerak pertumbuhan warung remang-remang, lampu penerangan yang terang benderang juga akan memberi dampak langsung kepada para pengunjung yang ingin berbuat mesum. Dinas pariwisata sebagai lembaga yang berkompeten dalam merumuskan program ini sesegera mungkin menyusun agenda kegiatan pariwisata kota. Bisa dengan menampilkan tarian, hiburan musik di panggungg terbuka yang sampai saat ini belum terbangun di lokasi tersebut.

Sebagai referensi, dari perjalanan saya mengunjungi kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), disana juga terdapat tepian seperti di Palu, hanya saja kalau kita kawasan pantai disana sungai. Namun demikian pemerintah Kukar lebih jeli mengantisipasi masalah bantaran tepian sungainya. Disepanjang sungai dibangun beragam fasilitas, kita bisa menemui taman-taman yang cantik, panggung terbuka dengan desain yang modern serta lampu-lampu hias yang menambah indah kawasan tersebut.

Untuk ukuran Nasional Kukar memang belum seberapa hanya saja cara penanganannya yang patut kita acungin jempol. Dan kita semua berharap Pemerintah Kota Palu juga bisa melakukan hal yang sama karena kita semua percaya bahwa tidak ada yang sulit jika mau berusaha. Termasuk merubah wajah Pantai Talise sebagai sarana wisata keluarga.

Sosialisasi Yang Kurang;
Untuk memberikan pemahaman kepada orang lain bukanlah hal yang mudah, namun upaya yang dilakukan secara kontinyu memiliki hasil lebih besar jika kita hanya melakukannya setengah-setengah saja. Proses penyadaran masyarakat harus terus digalakkan, pemerintah seyogyanya membentuk sebuah komunitas ”sadar lingkungan” atau ”aku cinta kotaku” dengan melibatkan berbagai unsur.
Komunitas ini memiliki tugas mempromosikan/mempublikasikan tentang keberadaan fungsi Pantai Talise yang sesungguhnya. Jika dulu pemerintah berhasil mengosongkan pinggiran pantai Talise dari pemukiman penduduk tentunya bukan hal yang sulit untuk membersihkan tenda remang-remang tersebut lalu digantikan dengan perangkat yang lebih cocok dan enak dipandang mata.

Kita semua berharap dalam waktu dekat ada respon yang positif dari pemerintah, guna menata kembali tata ruang wilayahnya, sehingga dikemudian hari Kota Palu menjadi Kota yang benar-benar cantik. Pantai Talise sendiri akan menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah Khususnya Kota Palu.

Sebagai warga kota yang menggemari hal-hal yang indah saya juga sadar bahwa proses untuk mewujudkan impian ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih banyak kepentingan selain kepnetingan publik yang terdapat diwilayah itu, bisa jadi ada kepentingan oknum tertentu. Inilah hegemoni yang tidak hanya kita temui di Pantai Talise tapi juga disemua tempat-tempat strategis lain di Indonesia. Dominasi otot dan aturan hukum rimba timbul sejalan dengan kepentingan tertentu.


Salam Perubahan,


Muhammad Rizky.

1 comments:

zovamaulana Sunday, 02 March, 2014  

Aq punya teman dri palu tepatnya dtalise,,dia cwe ABG msih sklh SMP klas 3 tapi ternyata dia sering dan suka melakukan hubungan suami-istri,dia sudah biasa melakukanny bahkan teman2 kelas nya juga banyak yg seperti dia,,,miris sekali baru SMP tindakan&kelakuany seperti itu,,mau jadi apa masadepannya...

Post a Comment

Silahkan Komentari Halaman ini...

MEMBER BLOG NEWS

Komentar Terbaru

RANKING

My Popularity (by popuri.us)

  © Muhammad Rizky Original Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP